Hot Reads

Jumat, 26 Desember 2014

AMANAH RASULULLAH DI ARAFAH

doa arafah
Jamaah haji wukuf di Jabal Rahmah, Arafah.

Empat Amanat Rasulullah SAW di Padang Arafah

Pada 9 Dzulhijjah jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah. Sebagai rukun haji, wukuf merupakan kegiatan ibadah yang penting bahkan dapat disebut terpenting. Sah tidaknya berhaji ditentukan oleh berwukuf tidaknya ia di Arafah. Mereka yang sakitpun selama masih ada nafasnya dibawa ke tempat ini. Ia wukuf sebentar lalu kembali ke rumah sakit yang merawatnya.
Di Arafah ini turun ayat terakhir Alquran “Pada hari ini telah Aku sempurnakan Agama untuk kalian dan telah Aku cukupkan ni’mat-Ku kepada kalian, dan telah Aku ridloi Islam sebagai Agama kalian” (QS Al Ma’idah 3). Kegiatan yang menyertai shalat, dzikir dan do’a adalah khutbah.
Rasulullah SAW berkhutbah sebelum shalat Dzuhur dan Ashar jama qashar taqdim. Khutbah inilah yang dikenal dengan khutbah wada (khutbah terakhir) karena disampaikan saat beliau berhaji terakhir (hijjatul wada’). Sabda Nabi  “Ambilah dariku cara kalian bermanasik haji, mungkin sehabis tahun ini aku tidak akan menunaikan ibadah haji lagi” (HR Muslim).
Beliau berkhutbah dengan penuh kesungguhan dan mohon perhatian yang sangat dari jama’ah. Pentingnya isi khutbah, sampai sampai di akhir khutbah Beliau mengangkat telunjuknya ke langit dan menunjuk orang banyak “Allahummasyhad… Allahummasyhad…Allahummasyhad..!” (Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah !).

Adapun amanat penting itu ada empat hal, yaitu:
Pertama, “Inna dimaa-a-kum wa amwaalakum haroomun ‘alaikum” (Sesungguhnya darahmu dan hartamu haram atasmu sekalian). Ini adalah amanah untuk menjaga persaudaraan. Dilarang sesama mu’min untuk saling menumpahkan darah, menyakiti, dan mengambil hartanya dengan cara yang zalim. Sebaliknya satu dengan yang lain dituntut untuk saling menjaga kehormatan dan kewibawaannya.  Mu’min adalah cermin dari saudaranya.
Kedua, “Wa ribaal jaahiliyyati maudhu’un” (dan riba jahiliyah itu terlarang). Riba adalah perbuatan dosa dan memakannya  sama dengan memakan duri di neraka. Ini menyangkut pergaulan ekonomi yang mesti dilakukan secara halal. Tidak mengandung unsur riba, judi (maisir) dan penipuan (gharar).Meminjamkan uang bukan dengan motif ingin pengembalian yang lebih banyak, melainkan dengan semangat menolong orang yang mengalami kesulitan. Melapangkannya akan berakibat kelapangan di akherat.
Ketiga, “Fattaquullaha fien nisaa-i fainnakum akhodztumuhunna biamaanillah” (Jaga dan bertakwalah kepada Allah dalam hal perempuan, sesungguhnya engkau mengambilnya dengan amanah Allah). Begitu mulia Nabi mengamanatkan persoalan istri. Menjaga badan dan hatinya karena Allah. Sikap suami kepada istri menjadi indikator kemuliaan dan kehinaan dirinya sebagaimana Sabda Nabi “Tidaklah memuliakan istrinya selain orang mulia, tidaklah menghinakannya selain dia orang yang hina”.
Keempat, “Wa qad taraktu fiikum maa lan tadhilluu ba’dahu in i’tashomtum bihi kitaaballahi” (Dan sesungguhnya aku tinggalkan kepadamu yang jika berpegang padanya tak akan sesat selama-lamanya, Kitabullah). Alquran adalah warisan Allah ‘tsuma awrotsnal kitaab’ yang menjadi bukukeselamatan hidup di dunia dan akherat. Sekeras dan segila apapun zaman yang ada, jika Al Qur’an tetap dibaca dan dijadikan pedoman, maka Allah pasti akan melindungi dan menyelamatkannya. Namun sebaliknya, melepaskan atau menjauhi Alqur’n maka sudah dapat dipastikan Allah akan melepaskan pula dirinya dan Ia pun akan menjadi sasaranpenyesatan dari orang-orang rusak yang ada di zaman itu.
Begitulah esensi khutbah Nabi. Amanat Arafah beliau SAW bukan hanya terdengar oleh mereka yang berhaji, tetapi gaungnya terdengar jauh ke ruang yang lebih luas. Dulu, kini, dan yang akan datang.
Pada tahun 11 Hijriyah bulan Shafar Rosulullah SAW sakit keras, semakin lama semakin lemah. Sinyal wada’ (perpisahan) saat haji mulai terasa. Demamnya semakin tinggi “demam yang kurasakan sama dengan demam yang dirasakan oleh dua orang diantara kalian”.
Nabi berada dipangkuan Siti Aisyah. “Aku merasakan beliau semakin berat dipangkuanku, kuperhatikan wajahnya ternyata penglihatannya memudar, lalu memejamkan mata seraya berucap: Ar Rofiqul A’laa minal Jannah ! (Ar Rofiqul A’laa dari Surga !)”. Saat itu wafatlah Rasulullah SAW (REPUBLIKA.CO.ID, Oleh HM Rizal Fadillah )

Salam Baitullah

SMS / CALL : 08787 1968 154 – 081 290 568 32

Rindu Baitullah

doa & Harapan BAITULLAH
Rindu BAITULLAH atau…………Ingin melepas Rindu pada Rasulullah ?
Kerinduan mengunjungi Baitullah merupakan hidayah yang wajib kita jaga.
Panggilan Allah untuk berhaji dan Umrah selalu terdengar merdu bagi Hamba-Nya yang rindu dan bersungguh-sungguh meniatkan Ibadah Haji dan Umrah sebagai salah satu tujuan hidupnya. sehingga  akan memotivasi  dalam mencari rizki sebagai perwujudan ibadah.
Tidak sedikit yang mampu secara financial tetapi merasa belum siap dan banyak pula yang merasa belum mampu secara financial untuk menunaikan ibadah haji. Sesungguhnya bukan perkara hidayah itu belum ada, bukan pula perkara kita belum mampu secara financial.
Allah itu Maha Kaya dan Ia akan selalu menunjukkan keajaiban bagi hambaNya yang percaya.           Maka Istiqomahlah dalam berdoa, berniatlah dengan penuh keyakinan dan ikhtiarlah dengan penuh kesungguhan.
Allah tidak semata – mata memerintahkan umat-Nya untuk beribadah tanpa adanya hikmah dan kebaikan .
Semoga setiap do’a dan setiap langkah kerinduan menuju Baitullah menjadi ladang amal yang terus mengalir,
Aamin Allahuma Aamin.

Bagaimana ……..ingin segera pergi ke Baitullah
Salurkan kerinduan Anda melalui Travel Kami.

Salam BAITULLAH
08787 1968 154 ( XL )  /  081 290 568 32 ( Simp )

www.rindubaitullah.wordpress.com
www.umrahibunda.com


Selasa, 15 Juli 2014

HAJI RASULULLAH SAW

Haji Rasulullah
Mengingat pentingnya mengetahui manasik haji yang dilaksanakan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, dan sebagai wujud pelaksanaan perintah beliau:
خُذُوْاعَنِّىمَنَاسِكَكُمْ
“Ambillah dariku manasik haji kalian!”
Maka kami menyajikan terjemahan lengkap hadits Jabir bin ‘Abdillah Radhiallaahu anhu yang menerangkan “Cara Haji Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam “, dan kami sertakan beberapa komentar serta keterangan para ulama berupa catatan kaki, dan hanya kepada Allah kami memohon taufiq dan petunjuk.
Jabir Radhiallaahu anhu berkata: “Bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tinggal di kota Madinah selama sembilan tahun belum pernah melaksanakan haji. Kemudian diumumkan kepada manusia pada tahun kesepuluh Hijriyyah, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam akan melaksanakan ibadah haji (pada tahun ini).
Maka banyak manusia (para Sahabat) yang berdatangan ke kota Madinah, semua berharap akan mengikuti (tata cara haji) Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan melakukan seperti apa yang dilakukan beliau. Lalu kami keluar bersama beliau hingga tiba di Dzul Hulaifah . (Setiba ditempat ini,-Pent) Asma’ binti Umais melahirkan Mu-hammad bin Abu Bakar (ash-Shiddiq), maka ia mengutus seseorang kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam (untuk bertanya) apa yang harus diperbuat-nya, beliaupun bersabda (kepada Asma,-Pent): “Mandilah dan tutuplah (sumbatlah) tempat keluar darah dengan kain dan berihramlah! Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaksanakan shalat di masjid.
A. Rasulullah Berihram.
Kemudian beliau menaiki Qashwa’ (unta beliau,-Pent) hingga setelah berada diatasnya di-tengah padang pasir terbuka, (beliau berihram dengan mengucapkanلَبَّيْكَاللَّهُمَّبِحَجَّةٍ “Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah untuk me-laksanakan haji”.
Selanjutnya Jabir berkata: “Maka aku me-lihat sepanjang mata memandang dari depan beliau para jama’ah haji yang menggunakan kendaraan dan yang berjalan kami, demikian pula disisi kiri beliau, disisi kanan beliau dan dibelakang beliau seperti itu (penuh dengan jama’ah haji,-Pent), sementara Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berada di tengah-tengah kami, dan diturunkan al-Quran (wahyu,-Pent) kepada beliau, dan beliau mengetahui penafsirannya. Apa saja yang beliau lakukan kamipun melakukannya. Selanjutnya beliau mengangkat suaranya dengan membaca “talbiyah” yang berisikan tauhid kepada Allah:
لَبَّيْكَاللَّهُمَّلَبَّيْكَلَبَّيْكَلاَشَرَيْكَلَكَلَبَّيْكَإِنَّالْحَمْدَوَالنِّعْمَةَلَكَوَالْمُلْكَلاَشَرِيَكَلَكَ
“Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, sesung-guhnya segala pujian dan kenikmatan ada-lah milik-Mu, demikian pula kekuasaan ini (milik-Mu), tiada sekutu bagi-Mu.”
Manusia pun mengangkat suara mereka sambil bertalbiyah dengan talbiyah yang mereka ucapkan, maka Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tidak membantah mereka sedikitpun dari talbiyah mereka itu, sedangkan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam terus menetapi talbiyahnya.
(Selanjutnya) Jabir berkata: “Kami tidak berniat kecuali haji, kami tidak mengetahui umrah.”
B. Memasuki Kota Makkah dan Thawaf
“Hingga tatkala kami telah sampai di Baitullah bersamanya beliau memegang/mengusap Hajar Aswad , lalu thawaf dengan ber-lari-lari kecil pada tiga putaran (pertama) dan berjalan seperti biasa pada empat putaran (berikutnya,-Pent). Lalu beliau menuju ke maqam Ibrahim Alaihissalam dan membaca:
“ Wattakhidzuu mimmaqaami Ibraahiim”
“…Dan jadikanlah sebagian maqam Ibra-him sebagai tempat shalat…”
Beliau jadikan maqam Ibrahim terletak di antara beliau dan Ka’bah, lalu beliau shalat dua rakaat dengan membaca: Qulhuwallaahu ahad dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun
(Setelah shalat) beliau menuju ke sumur zam-zam, lalu minum air zam-zam, dan menuangkannya diatas kepala beliau, kemudian beliau kembali ke Hajar Aswad, lalu mengusapnya.
C. Berdiri di Atas Bukit Shafa dan Marwah
Kemudian beliau keluar dari “pintu Shafa” menuju ke bukit Shafa. Setelah mendekati bukit Shafa, beliau membaca:
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah, maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya me-ngerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang-siapa yang mengerjakan suatu kebajiikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Mahamensyukuri kebaikan lagi Maha-mengetahui.”
أَبْدَأُبِمَابَدَأَاللهُبِهِ
“Aku memulai dengan apa yang dimulai oleh Allah.”
Lalu beliau memulai dengan menaiki bukit Shafa hingga beliau melihat Ka’bah, kemudian menghadap ke arah kiblat (Ka’bah,-Pent). Maka beliaupun mentauhidkan Allah dan mengagungkan-Nya, serta mengucapkan:
لاَإِلَهَإِلاَّاللَّهُوَحْدَهُلاَشَرٍيْكَلَهُلَهُالْمُلْكُوَلَهُالْحَمْدُوَهُوَعَلَىكُلِّشَيْءٍقَدِيْرٌ،لاَإِلَهَإِلاَّاللَّهُوَحْدَهُأَنْجَزَوَعْدَهُوَنَصَرَعَبْدَهُوَهَزَمَاْلأَحْزَابَوَحْدَهُ
“Tiada Ilah yang haq kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya pula segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada Ilah yang haq, kecuali Dia-Yang Mahaesa, Dia telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan golongan yang bersekutu (pasukan gabungan) dengan sendirian.”
Lalu beliau berdo’a di antara bacaan itu, beliau mengucapkan bacaan ini sebanyak tiga kali.
Kemudian beliau turun (dari bukit Shafa,-Pent) menuju ke bukit Marwah, hingga apabila ke-dua kakinya telah menginjak ditengah lembah itu, beliau berlari , hingga apabila kedua kaki-nya mulai mendaki, beliau berjalan (seperti biasa), hingga tiba di Marwah, lalu menaikinya hingga melihat Baitullah , dan beliau lakukan di Marwah seperti apa yang beliau lakukan di Shafa.”
D. Perintah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam Kepada Para Sahabat Untuk Menjadikan Haji Mereka Sebagai Umrah.
Hingga pada akhir putaran sa’inya ketika berada di bukit Marwah, beliau bersabda:
يَاأَيُّهَاالنَّاسُلَوْأَنِّىاسْتَقْبَلْتُمِنَأَمْرِىْمَااسْتَدْبَرْتُلَمْأَسُقِالْهَدْىَوَجَعَلْتُهَاعُمْرَةًفَمَنْكَانَمِنْكُمْلَيْسَمَعَهُهَدْيٌفَلْيَحِلَّوَلْيَجْعَلْهَاعُمْرَةً
“Hai sekalian manusia, seandainya aku mengetahui (ketika permulaan melaksanakan haji ini) apa-apa yang kuketahui sekarang ini, niscaya akau tidak akan membawa/menggiring binatang hadyu, dan akan kujadikan (pekerjaan hajiku ini) sebagai umrah , maka barangsiapa di antara kalian yang tidak menyertakan binatang hadyu bersamanya (yang tidak membawa binatang hadyu,-Pent) hendaklah ia berta-hallul dan menjadikan (amalannya berupa thawaf dan sa’i yang telah dilakukannya,-Pent) sebagai umrah.”
Dalam riwayat lain beliau bersabda:
أَحِلُّوْامِنْإِحْرَامِكُمْفَطُوْفُوْابِالْبَيْتِوَبَيْنَالصَّفَاوَالْمَرْوَةِوَقَصِّرُوْاوَأَقِيْمُوْاحَلاَلاًحَتَّىإِذَاكَانَيَوْمُالتَّرْوِيَةِفَأَهِلُّوْابَالِحِجِّوَاجْعَلُوْاالَّتِيْقَدِمْتُمْبِهَامُتَعَةً
“Bertahallullah dari ihram kalian, maka thawaflah di Baitullah dan di antara Shafa dan Marwah, serta pendekkanlah (rambut-rambut kepala kalian), dan tinggallah (di Makkah,-Pent) sebagai orang yang halal (yang tidak dalam keadaan berihram,-Pent) hingga datangnya hari Tarwiyah , maka berihram-lah untuk haji dan jadikanlah apa yang telah kalian datang dengannya sebagai haji Tamattu’.”
(Selanjutnya, Jabir Radhiallaahu anhu berkata:-Pent)
Maka bangkitlah Suraqah bin Malik bin Ju’syum (yang pada saat itu dia berada di kaki bukit Marwah), ia berkata:
يَارَسُوْلَاللهِ،أَرَأَيْتَعُمْرَتَنَا؟وَفِيْلَفْظٍ: مُتْعَتَنَا؟- أَلِعَامِنَاهَذَاأَمْلأَبَدٍ؟فَشَبَّكَرَسُوْلُاللهِ أَصَابِعَهُوَاحِدَةًفِيْأُخْرَىوَقَالَ: دَخَلَتِالْعُمْرَةُفِيْالْحَجَّمَرَّتَيْنِ- (إِلَىيَوْمِالْقِيَامَةِ) “لاَبَلْلأَبَدٍأَبَدٍ
“Ya Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang umrah kami ini? -Dalam redaksi yang lain: Tamattu’ kami ini?- Apakah hanya untuk tahun kita ini saja ataukah untuk selamanya? Maka Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam; mencengkeramkan (menyatukan) jari-jari tangan (kanannya,-Pent) pada jari-jari tangan (kiri-nya-Pent), dan berkata: ‘Umrah telah masuk dalam haji’ (sampai hari Kiamat), bahkan sampai selama-lamanya.”
E. Khutbah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam Menekankan Para Jama’ah Haji Qiran Yang Tidak Menggiring Binatang Hadyu dan Para Jama’ah Haji Ifrad Untuk Menjadikan Haji Mereka Sebagai Umrah.
Maka bangkitlah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah haji, beliau memuji dan menyanjung Allah Subhannahu wa Ta’ala , lalu berkata:
أَبِاللهِتَعْلَمُوْنِيْأَيُّهَاالنَّاسُ!؟قَدْعَلِمْتُمْأَنِّيْأَتْقَاكُمْلِلَّهِوَأَصْدَقُكُمْوَأَبَرُّكُمْ،افْعَلُوْامَاآمُرُكُمْبِهِفَإِنِّىلَوْلاَهَدْيِىْلَحَلَلْتُكَمَاتَحِلُّوْنَوَلَكِنْلاَيَحِلُّمِنِّىحَرَامٌحَتَّىيَبْلُغَالْهَدْىُمَحِلَّهُ،وَلَوِاسْتَقْبَلْتُمِنْأَمْرِىمَااسْتَدْبَرْتُلَمْأَسُقِالْهَدْىَ
“Demi Allah, wahai sekalian manusia Apa-kah kalian mengetahui aku!? Sungguh kalian telah mengetahui bahwasanya aku adalah orang yang paling takwa kepada Allah di antara kamu, paling jujur dan paling berbakti, laksanakanlah apa yang kuperintahkan kepada kalian, karena pada hakikatnya kalau bukan karena binatang hadyu, niscaya aku akan bertahallul sebagaimana kalian bertahallul, akan tetapi aku tidak bertahallul dari ihramku ini, sehingga binatang ini tiba di tempat penyembelihannya (hingga disembelih,-Pent). Seandainya dahulu aku mengetahui (berupa kesulitan) dalam urusan ini apa-apa yang kuketahui sekarang ini, niscaya aku tidak akan menggiring binatang hadyu.”
Maka bertahallul-lah semua jama’ah haji yang menyertai Rasulullah dan mereka memendekkan rambut, kecuali Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan mereka yang telah membawa binatang hadyu, dan tidak ada di antara mereka yang meng-giring binatang hadyu, kecuali Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan Thalhah (bin ‘Ubaidillah Radhiallaahu anhu ,-Pent).

F. Kedatangan ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu Dari Negeri Yaman.

‘Ali (bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu ,-Peny.) pun tiba dengan membawa sejumlah unta Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , lalu ia mendapati Fathimah Radhiallaahu anha (istrinya,-Pent) ter-masuk di antara mereka yang bertahallul, ia memakai pakaian yang dicelup (dengan wangi-wangian,-Pent) dan memakai celak mata, maka ‘Ali mengingkari (perbuatannya) itu. Fathimah berkata: “Sesungguhnya aku diperintahkan oleh ayahku untuk bertahallul.”
Jabir berkata (melanjutkan ceritanya,-Pent), ketika ‘Ali berada di Irak, dia berkata (men-ceritakan kisahnya ketika melihat Fathimah bertahallul,-Pent).
“Maka aku pergi kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , dan aku menyayangkan apa yang telah dilakukan Fathimah sambil meminta fatwa kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tentang apa yang disebutkan oleh Fathimah dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Lalu kuberitahukan kepada beliau bahwa aku mengingkari perbuatan Fathimah (dalam hal tahallulnya,-Pent), maka beliau berkata: ” Dia (Fathimah) benar, dia benar! (Kata Jabir). Dan beliau berkata ke-pada ‘Ali: ‘Apa yang kamu ucapkan ketika kamu haji?’ ‘Ali berkata: Aku berkata:
اَللَّهُمَّإِنِّىأُهِلُّبِمَاأَهَلَّبِهِرَسُوْلُكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berihram dengan apa yang Rasul-Mu berihram dengannya.”
Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya bersamaku ada binatang hadyu, maka janganlah kamu bertahallul.”
Jabir berkata (melanjutkan ceritanya,-Pent): “Dengan demikian jumlah binatang hadyu yang dibawa ‘Ali dari Yaman dan yang dibawa oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sebanyak seratus (100) ekor unta.”
Jabir berkata: “Maka bertahallul-lah seluruh jama’ah haji dan memendekkan (rambut-rambut mereka,-Pent), kecuali Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan mereka yang membawa hadyu.”
G. Menuju Mina Pada Hari Tarwiyah.
Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah,-Pent), para jama’ah haji berangkat menuju Mina. (Ketika akan berangkat dari tempat tinggal mereka,-Pent) mereka berihram untuk haji (dengan mengucapkan: لَبَّيْكَاللَّهُمَّبِحَجَّةٍ,-pent).
Jabir aberkata: “Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam masuk menemui ‘Aisyah Radhiallaahu anha (sebelum berangkat ke Mina,-Pent). Beliau dapati ‘Aisyah sedang menangis, maka beliau berkata: “Apa-kah gerangan yang menyebabkan engkau menangis?” ‘Aisyah berkata: “Keadaanku, aku sedang haidh sedangkan jama’ah haji telah bertahallul dan aku belum bertahallul, dan belum melaksanakan thawaf (umrah) di Baitul-lah, sementara orang-orang berangkat ke haji sekarang ini.” Maka beliaupun bersabda:
إِنَّهَذَاأَمْرٌكَتَبَهُاللَّهُعَلَىبَنَاتِآدَمَفَاَغْتَسِلِىثُمَّأَهِلِّىبِالْحَجِّثُمَّحُجِّىوَاصْنَعِىمَايَصْنَعُالْحَاجُّغَيْرَأَنْلاَتَطُوْفِيْبِالْبَيْتِوَلاَتُصِلِّىفَفَعَلَتْ
“Sesungguhnya (haidh,-Pent) itu adalah suatu perkara yang telah ditentukan Allah atas para wanita, maka mandilah kemudian ucapkanlah talbiyah untuk haji        لَبَيْكَاللَّهُمَّبِحَجَّةٍ –Pent, lalu hajilah dan lakukanlah semua (amalan) yang dilakukan oleh orang yang melaksanakan haji, hanya saja engkau tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah dan tidak boleh shalat , maka (‘Aisyah) pun melaksanakannya.”
Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengendarai (untanya untuk berangkat ke Mina,-Pent). Beliau disana melaksanakan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh , kemudian beliau tetap menunggu disana sejenak hingga matahari terbit , lalu menyuruh untuk mendirikan sebuah Qubbah dari bulu unta yang dipersiapkan untuk beliau (berteduh ketika wuquf) di Namirah.
H. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam Berangkat Menuju ‘Arafah.
Lalu berangkatlah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan orang-orang Quraisy dengan tidak ragu. Namun beliau berhenti pada Masy’aril Haram yang terletak di Muzdalifah, disitulah tempat turun beliau, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Quraisy di zaman Jahiliyyah. Kemudi-an beliau melanjutkan perjalanannya hingga mendatangi (sebuah tempat dekat) padang ‘Arafah, dan beliau jumpai bahwasanya Qubbah (kemah) beliau telah dibangun di Namirah, lalu beliaupun turun ditempat tersebut, hingga ketika matahari telah tergelincir, beliau memerintahkan agar unta beliau ” al-Qashwa’ ” segera dipasang pelananya, lalu beliau melanjutkan perjalanannya dan memasuki tengah lembah.
I. Khutbah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam di Arafah.
(Beliau bersabda:)
إِنَّدِمَاءَكُمْوَأَمْوَالَكُمْحَرَامٌعَلَيْكُمْكَحُرْمَةِيَوْمِكُمْهَذَافِيْشَهْرِكُمْهَذَافِيْبَلَدِكُمْهَذَاأَلاَكُلُّشَيْءٍمِنْأَمْرِالْجَاهِلِيَّةِتَحْتَقَدَمَىَّمَوْضُوْعٌ
“Sesungguhnya darah-darah dan harta-harta kalian haram atas kamu sekalian seperti haramnya harimu ini, di bulanmu ini, di negerimu ini. Ketahuilah segala sesuatu dari perkara Jahiliyyah diletakkan dibawah kedua telapak kakiku ini.
وَدِمَاءُالْجَاهِلِيَّةِمَوْضُوْعَةٌوَإِنَّأَوَّلَدَمٍأَضَعُمِنْدِمَاءِنَادَمُابْنِرَبِيْعَةَابْنِالْحَارِثِكَانَمُسْتَرْضِعًافِيْبَنِىسَعْدٍفَقَتَلَتْهُهُذَيْلٌوَرِبَاالْجَاهِلِيَّةِمَوْضُوْعٌوَأَوَّلُرِبًاأَضَعُرِبَاعَبَّاسٍابْنِعَبْدِالْمُطَّلِبِفَإِنَّهُمَوْضُوْعٌكُلُّهُ
“Darah-darah dizaman Jahiliyyah diletakkan (dibatalkan dari tuntutan,-Pent) dan (tuntutan) darah pertama yang dibatalkan di antara tuntutan darah-darah kami adalah darah Ibnu Rabi’ah bin al-Harits, dia adalah seorang anak yang disusukan dikalangan Bani Sa’ad, lalu ia dibunuh oleh seorang dari suku Hudzail. Riba Jahiliyyah pun dibatalkan dan riba pertama yang aku letakkan (batalkan adalah riba milik ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, semua riba itu dibatalkan.”
فَاتَّقُوْااللَّهَفِيْالنِّسَاءِوَإِنَّكُمْأَخَذْتُمُوْهُنَّبِأَمَانِاللهِوَاسْتَحْلَلْتُمْفُرُوْجَهُنَّبِكَلِـمَةِاللَّهِوَلَكُمْعَلَيْهِنَّأَنْلاَيُوْطِئْنَفُرُشَـكُمْأَحَدًاتَكْرَهُوْنَهُفَإِنْفَعَلْنَفَاضْرِبُـوْهُنَّضَرْبًاغَيْرَمُبَرِّحٍوَلَهُنَّعَلَـيْكُمْرِزْقُهُنَّوَكِسْوَتُهُنَّبِالْمَعْرُوْفِ
“Bertakwalah kamu kepada Allah dalam (memperlakukan) para isteri, karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan menghalalkan kemaluan-kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban mereka atasmu yaitu mereka tidak boleh mempersilahkan seorang pun yang tidak kamu senangi untuk masuk ke rumahmu. Dan apabila mereka melanggar hal tersebut, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras dan tidak menyakitkan. Dan kewajibanmu atas mereka yaitu memberi rizki (makan) dan pakaian dengan cara yang baik.”
وَإِنِّىقدْتَرَكْتُفِيْكُمْمَالَنْتَضِلُّوْابَعْدُإِنِاعْتَصَمْتُمْبِهِكِتَابَاللَّهِوَأَنْتُمْتُسْأَلُوْنَعَنِّىفَمَاأَنْتُمْقَائِلُوْنَ؟قَالُوْا: نَشْهَدُأَنَّكَقَدْبَلَّغْتَوَأَدَّيْتَوَنَصَحْتَ. فَقَالَبِأَصْبُعِهِالسَّبَـابَةِيَرْفَعُهَاإِلَىالسَّمَاءِوَيُنْكِتُهَاإِلَىالنَّاسِ: اللَّهُمَّاشْهَدْاللَّهُمَّاشْهَدْ (ثَلاَثَمَرَّاتٍ)
“Dan bahwasanya telah kutinggalkan padamu sesuatu yang menyebabkan kamu tidak akan tersesat selama-lamanya jika kamu berpegang teguh padanya, yaitu “Kitabullah”. Dan kamu akan ditanya tentangku, maka apakah jawaban kalian? (Para Sahabat) berkata: ‘Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menyampaikan (risalah Rabbmu), menunaikan (amanah) dan menasihati (ummat), lalu beliaupun bersabda sambil mengangkat jari telunjuk-nya ke langit dan menggerakkannya kepada para Sahabat (jama’ah haji): ‘Ya Allah saksikanlah! Ya Allah saksikanlah (beliau mengucapkannya tiga kali.’”)
J. Menjamak Shalat di ‘Arafah.
Kemudian Bilal mengumandangkan adzan satu kali, lalu membaca iqamah, maka Nabi pun melaksanakan shalat Zhuhur, kemudian Bilal membaca iqamah sekali lagi, lalu Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaksanakan shalat ashar. Beliau tidak mengerjakan shalat (sunnah) di antara kedua shalat tersebut. Kemudian beliau menaiki untanya hingga tiba di tempat wuquf, beliau menjadikan perut untanya, al-Qashwa’, rapat ke batu-batu gunung dan menjadikan tempat berkumpulnya para pejalan kaki ber-ada didepannya, beliau mengahadap ke arah kiblat dan tetap wuquf hingga matahari ter-benam dan hilangnya mega kuning, serta bola matahari tenggelam. (Ketika wuquf beliau membonceng Usamah (bin Zaid,-Pent) dibelakangnya).

K. Bertolak Dari ‘Arafah.

(Lalu) Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertolak (dari ‘Arafah) dengan penuh ketenangan, beliau menyempitkan kekang (kendali) unta al-Qashwa’ hingga kepala unta itu menyentuh tempat meletakkan kaki yang ada di kendaraan itu. Dan beliau memberikan isyarat dengan tangan kanannya (kepada para jama’ah haji) seraya bersabda:
أَيُّهَاالنَّاسُالسَّكِيْنَةَ! السَّكِيْنَةَ
“Wahai sekalian manusia tenanglah, tenanglah!”
Setiap kali beliau tiba dibukit pasir, beliau longgarkan kendali untanya sedikit hingga untanya mendaki.
L. Menginap di Muzdalifah.
Sesampainya di Muzdalifah, beliau me-laksanakan shalat Maghrib dan ‘Isya’ dengan satu adzan dua iqamah, beliau tidak shalat sunnah di antara kedua shalat itu. Kemudian beliau berbaring (tidur) hingga terbit fajar Shubuh, lalu beliau mengerjakan shalat Shubuh setelah kelihatan jelas masuknya waktu Shubuh dengan satu kali adzan dan satu kali iqamah.
Wuquf di Masy’aril Haram (Muzdalifah)
Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam naik al-Qashwa’ hingga tiba di “Masy’aril Haram”, beliau langsung menghadap kiblat lalu berdo’a kepada Allah, bertakbir dan bertahlil (mengucapkan kalimat tauhid, Laa Ilaaha Illallaah) serta mentauhidkan-Nya. Beliau terus melaksa-nakan wuquf ini hingga pagi hari telah sangat terang dan beliau berkata:
وَقَفْتُهَهُنَاوَالْمُزْدَلِفَةُكُلُّهَامَوْقِفٌ
“Aku wukuf disini dan seluruh lokasi Muzdalifah adalah tempat wukuf.”

M. Bertolak dari Muzdalifah untuk Melempar Jumratul ‘Aqabah.

Sebelum matahari terbit, beliau bertolak (dari Muzdalifah ke Mina,-Pent), beliau membonceng Fadhl bin ‘Abbas, ia adalah seorang yang berambut indah, berkulit putih dan ber-paras tampan. Ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berangkat, maka ada beberapa wanita berlari melewati beliau, Fadhl pun melihat kepada mereka (para wanita itu), maka Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menempelkan tangannya diatas wajah Fadhl, lalu Fadhl memutar wajahnya ke arah yang lain (agar dapat) melihat (mereka), maka beliaupun memutar tangannya ke arah yang lain itu sambil memalingkan wajah Fadhl agar melihat ke arah lain, hingga beliau tiba di lembah “Muhassir” dan sedikit mempercepat gerak (jalan) untanya.
N. Melempar Jumratul ‘Aqabah (Jumratul Kubra) [Tanggal 10 Dzulhijjah].
Kemudian beliau menempuh jalan tengah yang tembus keluar menuju Jumratul Kubra hingga tiba di Jamrah yang terletak di dekat pohon kemudian beliau melontarnya dengan tujuh batu kecil sambil bertakbir (membaca:اللَّهُأَكْبَرْ,-Pent) pada setiap lontaran yang batunya sebesar batu yang digunakan untuk ketapel, beliau melontarnya dari tengah-tengah lembah sambil berkata:
لِتَأْخُذُوْاعَنِّيمَنَاسِكَكُمْفَإِنِّىلاَأَدْرِيلَعَلِّىلاَأَحُجُّ بَعْدَحَجَّتِيهَذِهِ
“Ambillah dariku manasik haji kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, bisa jadi aku tidak akan melaksanakan ibadah haji lagi setelah hajiku ini.”
O. Menyembelih Binatang Hadyu dan Mencukur Gundul Rambut Kepala.
Lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam berangkat menuju lokasi penyembelihan dan menyembelih 63 (enam puluh tiga) ekor unta dengan tangan beliau, kemudian diserahkan kepada ‘Ali (bin Abi Thalib,-Pent). Lalu binatang kurban yang se-lebihnya disembelih oleh ‘Ali dan digabung-kan dengan binatang hadyunya. Lalu beliau memerintahkan untuk mengambil sepotong daging dari setiap satu ekor unta hadyunya, kemudian dimasukkan kedalam periuk untuk dimasak. Lalu beliau makan dari daging kurban itu dan meminum air kuahnya.
Dalam riwayat lain: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menyembelih (hewan hadyu), lalu mencukur (rambut kepalanya sampai bersih,-Pent), lalu beliau duduk di Mina pada hari Nahar (10 Dzulhijjah,-Pent). Maka tidaklah beliau ditanya tentang suatu (pekerjaan yang dilakukan pada hari itu) yang didahulukan sebelum yang lainnya, melainkan beliau menjawab: “Tidak mengapa, tidak mengapa.”
P. Menuju Makkah untuk Thawaf Ifadhah.
Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengendarai untanya, lalu bertolak ke Baitullah, kemudian melaksanakan thawaf ifadhah, dan beliau shalat Zhuhur di Makkah. Kemudian beliau mendatangi Bani ‘Abdul Muththalib yang sedang memberi minum air zam-zam (kepada para jama’ah haji), lalu berkata:
اِنْزِعُوْابَنِىعَبْدِالْمُطَّلِبِفَلَوْلاَأَنْيَـغْلِبَكُمُالنَّاسُلَنَزَعْتُمَعَكُمْفَنَاوَلُوْهُدَلْوًافَشَرِبَمِنْهُ
“Timbalah (air zam-zam itu) wahai Bani ‘Abdul Muththalib, kalau sekiranya (aku tidak merasa khawatir) kamu akan dikalah-kan oleh para jama’ah haji atas pemberian minum ini, tentu aku akan menimba dengan kalian, kemudian mereka meyerahkan setimba air zam-zam kepada beliau, maka beliaupun meminumnya.”
(Terjemahan hadits ini dinukil dan dipadukan dari beberapa sumber, yaitu Shahih Muslim bab “Hajjatun Nabiyyi Shalallaahu alaihi wasalam 8/402-421 hadits No. 2941, Hajjatun Nabi Shalallaahu alaihi wasalam : 45-92 karya Syaikh al-Albani, dan Shifat Hajjatin Nabi Shalallaahu alaihi wasalam karya asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zinu hal: 3-16.) ( alquran-sunnah )
Salam BAITULLAH

http://www.umrahibunda.com
SMS/CALL : 08787 1968 154
081 290 568 32, 081 299 426 70

BACKPACKER

backpacker
Mengenal Backpacker
Umrah Backpacker, Cara Beda Menikmati  Perjalanan Spiritual
– Harga mahal tak menjadi halangan bagi umat yang ingin mengunjungi Tanah Suci. Salah satu solusinya yaitu, dengan menjalankan umrah secara backpacker. Salah seorang yang pernah menunaikan umrah secara backpacker, Herman, mengaku sangat senang bisa memenuhi dahaga spiritualnya ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Apalagi perjalanan yang dilakukannya cukup unik dengan menempuh jalur berbeda dibanding jamaah pada umumnya. “Pilihan memilih paket ini, pertama karena murah. Kedua, karena ingin menikmati perjalanan spiritual dengan cara beda,” ujarnya,
Herman mengaku, hal yang paling terasa saat menjalani umrah paket hemat adalah badan terasa lebih capai. Namun, karena sejak awal memang ingin menanggung risiko dengan memilih paket backpacker, ia senantiasanya menikmati setiap momen di Tanah Suci.
Ia berkisah, dalam rombongannya pernah ada seorang bapak yang mengeluh kelelahan karena badannya sakit. Namun setelah diingatkan agar tidak mengeluh dan ikhlas menjalani semua, bapak itu tiba-tiba bertemu orang Arab yang fasih berbahasa Indonesia. Oleh orang Arab, bapak itu diberi minuman air mineral.
“Setelah menenggak beberapa teguk, sang bapak langsung sembuh penyakitnya. Inilah hikmah ikut umrah backpacker,” katanya.
Herman menyarankan, agar orang berusia di atas 40 tahun tidak mengambil paket murah. Karena selain cukup merepotkan juga memang menguras energi. Dari pada selama perjalanan hanya mengeluh hingga membuat ibadah umrahnya terganggu, lebih baik mengambil paket reguler. ( sumber : republika )
Mau Umrah…. Kami siap membantu .

Salam BAITULLAH

SMS/CALL :  08787 1968 154 ( XL )
081 299 426 70 ( Simp ) / 081 290 568 32 ( Simp )

RINDU BAITULLAH

rindu baitullah1
Umrah / Haji Tiap Tahun ….?  ini do’anya

اَللَّهُمَّ الرْزُقْنَا زِيَارَةَ بَيْتِكَ اَلْمُعَظَّمْ
وَرَسُوْلِكَ اَلْمُكَرَّمْ فِى هَذَا الْعَامْ وَفِى كُلِّ عَامْ بِاَحْسَنِ الْحَالْ
Artinya :
Ya Allah, Berilah kami Rizqi untuk mengunjungi rumah-MU yang agung dan Rasul-MU yang mulia,
di tahun ini dan setiap tahun, dengan keadaan sebaik-baiknya.
Saudaraku …….
Haji merupakan rukun islam kelima kita, adalah salah satu ibadah yang menjadi impian banyak muslim. Ibadah yang begitu membekas dan bermakna bagi mukmin yang bersungguh-sungguh menjalankannya. Nilai pahalanya pun juga luar biasa besar di sisi Allah. Wajar jika tidak semua orang mampu segera melaksanakannya.
Berikut adalah tips-tips agar insya Allah dapat segera naik haji & umrah berdasarkan beberapa sumber dari ustadz kita.
  1. Berniat kuat (ber-azzam) untuk melaksanakan haji. Azzam berarti kebulatan tekad, tidak hanya sekedar niat yang diucapkan di mulut atau ‘numpang’ lewat di pikiran atau hati saja.
  2. Pelajari cara-cara melakukan ibadah haji (manasik haji). Pengetahuan yang benar akan memperkuat niat dan keinginan kita untuk segera melaksanakannya.
  3. Perbanyak berdoa dan panjatkanlah secara rutin setiap saat, misalkan setiap selesai sholat fardhu maupun sunnah.
  4. Jangan lupa doakan selalu orang tua kita. Ingatlah bahwa anak yang sholeh sangat dicintai Allah sehingga insya Allah akan dimudahkan-Nya dalam mencapai segala keinginan kita.
  5. Selalu berbaik sangka-lah (ber-husnudzon) kepada Allah SWT. Jangan mudah putus asa. Jalanilah kehidupan dengan sabar dan yakinlah bahwa Allah SWT akan selalu memberikan pertolongan
  6. Mulailah menabung sekarang juga, berapapun juga! Buktikan pada Allah SWT bahwa kita bersungguh-sungguh ingin menjalankan perintahnya. Insya Allah, Allah SWT akan menolong kita dari arah yang tak terduga. Gunakan jasa tabungan haji di bank Syariah atau lembaga haji lainnya. Pilihlah tabungan haji yang tidak mudah dicairkan dan memiliki target minimum pendaftaran haji, agar niat kita terjaga.
  7. Perbanyaklah beramal. Jangan hanya menabung di bank syariah, tapi ‘tabunglah’ amal kita kepada anak-anak yatim, fakir miskin, baitul mal, gelandangan dan mesjid-mesjid.
  8. Jalankanlah sebaik mungkin segala perintah-Nya dalam Islam dan jauhi maksiat. Jika kita meminta sesuatu pada seseorang, kita akan berusaha menyenangkannya, bukan? Begitu juga jika kita meminta sesuatu pada Allah SWT, kita harus menyenangkan-Nya dengan menjalankan apa yang perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.
Semoga kita dimudahkan-Nya untuk segera melaksanakan ibadah haji / umrah . Amin yaa rabbal ‘alamiin.
Referensi:
  1. “Berdoa itu bermanfaat bagi sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Maka hendaklah kalian banyak berdoa.” (al Hadits)
  2. Rasulullah SAW bersabda, “tidak ada satu doa pun yang dipanjatkan kecuali ia menjadi simpanan kebaikan bagi yang berdoa.”

Salam Baitullah
SMS/CALL : 08787 1968 154, 081 290 56832
Copyright © 2014 RINDU BAITULLAH TOUR & TRAVEL